Welcome To Blog DEWI APRILIYANTI Kala Senja Mengukir Kata Penuh Makna.

Minggu, 31 Desember 2017

BENARKAH AKU MUSLIMAH??




Harus dengan cara apa aku memulainya?
Mulai meniti setiap jalan yang hendak kutempuh
Menerjang lika liku hidup yang kian mengganas
Harus dengan cara apa aku melepasnya
Melepas masa jahil yang telah biasa aku lakukan
Juga kebiasaan buruk yang terlanjur tertanam
Haruskah sepahit ini perkataan dunia padaku?
Seakan tak mampu aku mengangkat kepala ketika berjalan
Tak mampu aku mengayunkan tangan ketika melangkah
…..
Apa yang sebenarnya mereka lihat dariku?
Apakah begitu terlihat sempurnanya hidupku?
Ataukah, aku terlihat seperti seorang pendosa?

Tidak
Aku bukanlah pemanah yang ahli menancapkan busur
Bukanlah bejat yang akan mengakhiri hidup se
seorang
Tak pantas mereka anggap aku binatang buas
Karena tuhanku menjadikan ku mulia dengan caraku memuliakan diriku

Biarlah sandiwara ini menjadi catatan kusutku
Aku hanya akan melawan dalam diamku
Tuhan…
Dengarkan ceritaku sebentar saja
Ini tentang hidup yang terasa berat untuk aku jalani
Tentang sulitnya aku mentafsirkan mimpi
Mimpi berlari mengejar senja yang kian menepi
Tuhan…
Dengarkan ceritaku sebentar saja
Ingin rasanya aku keluar dari jendela besi yang meremukkan imanku
Lalu memijakkan kaki diatas gemburnya tanah hijrahku
Aku iri....
Bidadari syurga itu
kau berikan tahta
Mereka
kau buat anggun dengan kibaran sayap yang indah
Kau buat cantik dengan mahkota yang mereka kenakan
Tapi
, adakalanya kau buat berbeda
Keindahan
itu semua hanya disyurga, tidak didunia
Jika boleh aku bertanya
Benarkah aku seorang muslimah?
Jika benar….
Maka siapkan satu mahkota sebagai hadiah untukku
Karna aku akan menjadi bidadari dunia dan syurga


MAHABBAH CINTA


                                            
Bila hujan mengawali hening malam dalam sekejap
Ilusi cinta bebas berkeliaran dalam gelap
Membuatku ingat pada tatapanmu dikala itu
Bagai terukir di pelupuk mata dan khayalku

Kau …
Yang dulu pernah singgah dan menyelam dalam hatiku
Apa kabar dirimu …?
Sudah lama kau menghilang
Lari dan membuang begitu saja kenangan tentangku
Merampas bingkisan mahabbah cinta dariku

Kau tahu …?
Pertemuan kita dulu menjadi awal dari hembusan kisah asmaraku
Berpijar pada ruang kehidupan cintaku
Dimana rasa, hadir bagai ilusi sesaat
……

Untukmu yang dahulu hadir di sela - sela kesunyian
Jagalah selalu hatimu,
Seperti aku menjaga hatiku untukmu

Letakkan semuanya dalam genggaman
Dalam alun - alun penantianku
Hanya ada dua hal tentang kita
Menjaga Cinta atau mengikhlaskan
Namun, aku memilih mencintaimu
Karena kau ada dalam catatan cintaku
……


( Oleh : Dewi Apriliyanti ) Ig #Ewik20




PEMUDA DAN PERADABAN


Laa ilaha illallah.....
Laa ilaha illallah.....

Ku coba pelankan pergerakan langkahku
Dalam keramaian menatap asing disekelilingku
Diseberang sana terdengar suara jeritan dan tak kunjung terhentikan

Diseberang sana terdengar pula suara tawa menggelintir menyapa dengan sadis
Keserakahan manusia tercium dan menjadi awal rusaknya peradaban
Merintih, menangis mempertahankan keegoisan …..
Berlomba – lomba mengejar dunia yang bengis...
 
Warna warni kehidupan telah meringgas dalam dunia yang buas
Lahirkan penguasa- penguasa yang tak pernah puas
Menorehkan keserakahan yang kian mengganas

Wahai pemuda, generasi penguasa peradaban…
Bangunlah,….
Tataplah duniamu dan negerimu seberang sana

Lihatlah mereka....
Merintih, menagis dan berlari menghindari peluru
Mengindar dari reruntuhan rumah- rumah mereka
Dan akhirnya mati ditangan tikus- tikus bengis nan sadis

Wahai pemuda, generasi penguasa peradaban…
Bagunlah…
Sudah waktunya kau berdiri kokoh
Kejar Kemenanganmu
Buktikan bahwa kau bukan pemuda pengecut
Kau bukanlah pemuda bodoh yang mempetontokan kekalahamu

Wahai generasi penguasa peradaban…
Dimakah rasa bersalahmu
Dimanakah kau tempatkan hatimu
Adakah disetiap sholatmu, kau sertakan doa untuk mereka ?
Adakah disetiap lagkahmu kau gerakkan untuk menghapus sumber tangis mereka ?

Butakah engkau wahai pemuda
Sehingga dengan jelas mereka merintih, menangis kesakitan dihadapanmu
Namun hatimu tak dapat goyah
Tak menjadi luka yang menyayat   
Kau layaknya patung  yang tak ada reaksi sedikitpun

Tahuakah kau wahai pemuda...
Tangisan yang setiap harinya kau dengar
Jeritan yang setiap harinya kadang mengganggumu
Darah yang setiap harinya bercucuran dari tubuh mereka
Adalah bukti bahwa mereka tidaklah rapuh seperti dirimu
Adalah bukti bahwa  mereka telah siap menancapkan pedang perjuangan

Tanyakan pada dirimu.....
Apa yang kau lakukan disini
Tanpa sadar kau telah membunuh mereka karna diammu
Tanpa sadar kau telah memusnahkan mereka karena heningmu.

Sadarlah…
Ini bukan tentang seberapa sering kau merengek melihat mereka
Namun seberapa kuat kau berjalan dan membuktikan
bahwa harapanmu mengisyaratkan, kau harus kembali kepada jalan yang benar
karena waktu selalu memberikanmu pilihan
Yaitu memperjuangkan atau meninggalkan.

Oleh : Dewi Apriliyanti
Ig #Ewik20