Laa ilaha illallah.....
Laa ilaha illallah.....
Laa ilaha illallah.....
Ku coba pelankan pergerakan langkahku
Dalam keramaian menatap asing disekelilingku
Dalam keramaian menatap asing disekelilingku
Diseberang sana terdengar suara jeritan dan tak
kunjung terhentikan
Diseberang sana terdengar pula suara tawa menggelintir menyapa dengan sadis
Keserakahan manusia tercium dan menjadi awal rusaknya peradaban
Merintih, menangis mempertahankan keegoisan …..
Berlomba – lomba mengejar dunia yang bengis...
Warna warni kehidupan telah meringgas dalam dunia yang buas
Lahirkan penguasa- penguasa yang tak pernah puas
Menorehkan keserakahan yang kian mengganas
Wahai pemuda, generasi penguasa peradaban…
Bangunlah,….
Tataplah duniamu dan negerimu seberang sana
Diseberang sana terdengar pula suara tawa menggelintir menyapa dengan sadis
Keserakahan manusia tercium dan menjadi awal rusaknya peradaban
Merintih, menangis mempertahankan keegoisan …..
Berlomba – lomba mengejar dunia yang bengis...
Warna warni kehidupan telah meringgas dalam dunia yang buas
Lahirkan penguasa- penguasa yang tak pernah puas
Menorehkan keserakahan yang kian mengganas
Wahai pemuda, generasi penguasa peradaban…
Bangunlah,….
Tataplah duniamu dan negerimu seberang sana
Lihatlah mereka....
Merintih, menagis dan berlari menghindari peluru
Mengindar dari reruntuhan rumah- rumah mereka
Dan akhirnya mati ditangan tikus- tikus bengis nan sadis
Wahai pemuda, generasi penguasa peradaban…
Bagunlah…
Sudah waktunya kau berdiri kokoh
Kejar Kemenanganmu
Buktikan bahwa kau bukan pemuda pengecut
Kau bukanlah pemuda bodoh yang mempetontokan kekalahamu
Bagunlah…
Sudah waktunya kau berdiri kokoh
Kejar Kemenanganmu
Buktikan bahwa kau bukan pemuda pengecut
Kau bukanlah pemuda bodoh yang mempetontokan kekalahamu
Wahai generasi penguasa peradaban…
Dimakah rasa bersalahmu
Dimanakah kau tempatkan hatimu
Adakah disetiap sholatmu, kau sertakan doa untuk mereka ?
Adakah disetiap lagkahmu kau gerakkan untuk menghapus sumber tangis mereka ?
Dimakah rasa bersalahmu
Dimanakah kau tempatkan hatimu
Adakah disetiap sholatmu, kau sertakan doa untuk mereka ?
Adakah disetiap lagkahmu kau gerakkan untuk menghapus sumber tangis mereka ?
Butakah engkau wahai pemuda
Sehingga dengan jelas mereka merintih, menangis kesakitan dihadapanmu
Namun hatimu tak dapat goyah
Tak menjadi luka yang menyayat
Kau layaknya patung yang tak ada reaksi sedikitpun
Sehingga dengan jelas mereka merintih, menangis kesakitan dihadapanmu
Namun hatimu tak dapat goyah
Tak menjadi luka yang menyayat
Kau layaknya patung yang tak ada reaksi sedikitpun
Tahuakah kau wahai pemuda...
Tangisan yang setiap harinya kau dengar
Jeritan yang setiap harinya kadang mengganggumu
Darah yang setiap harinya bercucuran dari tubuh mereka
Adalah bukti bahwa mereka tidaklah rapuh seperti dirimu
Adalah bukti bahwa mereka telah siap menancapkan pedang perjuangan
Tangisan yang setiap harinya kau dengar
Jeritan yang setiap harinya kadang mengganggumu
Darah yang setiap harinya bercucuran dari tubuh mereka
Adalah bukti bahwa mereka tidaklah rapuh seperti dirimu
Adalah bukti bahwa mereka telah siap menancapkan pedang perjuangan
Tanyakan pada dirimu.....
Apa yang kau lakukan disini
Tanpa sadar kau telah membunuh mereka karna diammu
Tanpa sadar kau telah memusnahkan mereka karena heningmu.
Apa yang kau lakukan disini
Tanpa sadar kau telah membunuh mereka karna diammu
Tanpa sadar kau telah memusnahkan mereka karena heningmu.
Sadarlah…
Ini bukan tentang seberapa sering kau merengek melihat mereka
Namun seberapa kuat kau berjalan dan membuktikan
bahwa harapanmu mengisyaratkan, kau harus kembali kepada jalan yang benar
karena waktu selalu memberikanmu pilihan
Yaitu memperjuangkan atau meninggalkan.
Ini bukan tentang seberapa sering kau merengek melihat mereka
Namun seberapa kuat kau berjalan dan membuktikan
bahwa harapanmu mengisyaratkan, kau harus kembali kepada jalan yang benar
karena waktu selalu memberikanmu pilihan
Yaitu memperjuangkan atau meninggalkan.
Oleh : Dewi Apriliyanti
Ig #Ewik20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar